Astra

Astra International (IDX: ASII) merupakan perusahaan multinasional diversifikasi[1] yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1957 dengan nama PT Astra International Incorporated. Pada tahun 1990, perseroan mengubah namanya menjadi PT Astra International Tbk.[2] Perusahaan ini telah tercatat di Bursa Efek Jakarta sejak tanggal 4 April1990. Per 30 Juni 2018, mayoritas saham Astra dimiliki oleh Jardine Cycle & Carriage Ltd. sebesar 50,11%.

Logo Astra International (1957-1999)

Perseroan berdomisili di Jakarta, Indonesia, dengan kantor pusat di JI. Gaya Motor Raya No. 8, Sunter II, Jakarta.[2] Ruang lingkup kegiatan Perseroan seperti yang tertuang dalam anggaran dasarnya adalah perdagangan umum, perindustrian, jasa pertambangan, pengangkutan, pertanian, pembangunan dan jasa konsultasi. Ruang lingkup kegiatan utama entitas anak meliputi perakitan dan penyaluran mobil, sepeda motor dengan suku cadangnya, penjualan dan penyewaan alat berat, pertambangan dan jasa terkait, pengembangan perkebunan, jasa keuangan, infrastruktur dan teknologi informasi.[2]

Sampai dengan Desember 2017, Grup Astra memperkerjakan lebih dari 218.000 karyawan di 212 perusahaan, anak perusahaan, dan entitas asosiasi.[3] Jumlah ini bertumbuh hingga 221.719 per 30 Juni 2018.[2]

Hingga 31 Desember 2017, Astra memiliki tujuh lini bisnis utama, dengan berbagai macam segmen usaha dan anak perusahaan yang menangani langsung masing-masing lini bisnis tersebut.[7]

OtomotifSunting

Lini bisnis otomotif mencakup bisnis kendaraan roda empat, kendaraan roda dua, komponen pendukung kendaraan, serta berbagai produk dan jasa terkait otomotif lainnya. Berbagai anak usaha lini bisnis otomotif di antaranya Toyota-Astra Motor, Astra Daihatsu Motor, Isuzu Astra Motor Indonesia, Astra Honda Motor, Astra Otoparts, dan Astra World.[7]

Lini bisnis ini merupakan lini bisnis yang mengawali kiprah bisnis Astra International, dan merupakan salah satu lini bisnis utama perusahaan. Astra mengelola berbagai merek kendaraan bermotor yang dipasarkan di Indonesia, di antaranya Toyota, Daihatsu, Isuzu, BMW, Peugeot, dan UD Trucks (roda empat) dan Honda (roda dua). Pada tahun 1990, kontribusi dari lini bisnis otomotif terhadap pendapatan bersih Astra sempat mencapai 80,27%, hingga turun menjadi 52% pada tahun 2015 seiring pertumbuhan portfolio lini bisnis lainnya.[9]

Astra juga menjadi perusahaan pertama yang membangun pabrik perakitan sepeda motor di Indonesia melalui PT Federal Motor (yang kini menjadi Astra Honda Motor). Dimulai pada tahun 1971, Federal Motor merakit 1.500 unit sepeda motor Honda per tahunnya, dan pada tahun 2015, Astra mampu menjual 4,5 juta unit sepeda motor setiap tahunnya, dengan kapasitas produksi 5,8 juta unit pertahun.[9]

Jasa KeuanganSunting

Lini bisnis jasa keuangan mencakup bisnis jasa perbankan, pembiayaan mobil, pembiayaan alat berat, pembiayaan sepeda motor, asuransi jiwa, dan asuransi umum. Berbagai anak usaha lini bisnis jasa keuangan di antaranya Bank Permata, Astra Sedaya Finance, Toyota Astra Financial Services, Federal International Finance, Komatsu Astra Finance, Asuransi Astra Buana, dan Astra Aviva Life.[7]

Lini bisnis ini bermula dari keinginan untuk meningkatkan penjualan dari lini bisnis otomotif pada tahun 1980-an, khususnya untuk sepeda motor Honda. Melalui kerjasama dengan Fuji Bank dengan mendapatkan pinjaman USD 1 juta (disusul dengan bank lainnya), Astra mendirikan sebuah perusahaan leasing bernama Rahardja Sedaya pada tahun 1982, yang kini menjadi Astra Credit Companies. Lini bisnis keuangan kemudian berkembang kepada pembelian saham mayoritas Maskapai Asuransi Buana (kini menjadi Asuransi Astra) pada tahun 1990, dan mendirikan Federal International Finance (FIF) untuk pembiayaan konsumen sejak tahun 1991.[9]

Astra kemudian berkongsi dengan Standard Chartered Bank untuk mengelola Bank Permata sejak tahun 2004, melalui kepemilikan bersama sebesar 89,12% per 31 Desember 2017.[8]

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan EnergiSunting

Lini bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi mencakup perdagangan dan penyewaan mesin konstruksi, kontraktor pertambangan, pertambangan batu bara, konstruksi, dan energi. Berbagai anak usaha lini bisnis ini di antaranya United Tractors, Pamapersada Nusantara, Acset Indonusa, Bhumi Jati Power, dan Tuah Turangga Agung.[7]

Awal masuknya Astra ke dalam lini bisnis ini adalah pada dekade 1970-an melalui bisnis perdagangan dan penyewaan alat berat. Usai pendirian United Tractors pada tahun 1972, Astra mendapatkan keagenan dari Komatsu, sebuah perusahaan alat-alat berat asal Jepang. Kini, United Tractors juga menjadi distributor dari berbagai merek seperti UD Trucks, Scania, Bomag dan Tadano.[9]

United Tractors kemudian masuk ke bisnis batu bara di Indonesia melalui layanan kontraktor pertambangan batu bara dengan mendirikan perusahaan Pamapersada Nusantara pada tahun 1989, melalui berbagai jasa di antaranya disain pertambangan, eksplorasi, penyulingan, dan transportasi komoditas. Kemudian, dalam mengimbangi turunnya bisnis alat berat dan pertambangan batu bara, United Tractors memasuki bisnis konstruksi dengan mengakuisisi 50,1% saham dari Acset Indonusa, sebuah perusahaan konstruksi spesialisasi fondasi dan geoteknik.[9]

AgribisnisSunting

Lini bisnis agri mencakup perkebunan kelapa sawit, pabrik pengolahan minyak sawit, peternakan, dan perdagangan komoditi. Berbagai anak usaha dalam lini bisnis ini di antaranya Astra Agro Lestari, Tanjung Sarana Lestari, Tanjung Bina Lestari, dan Agro Menara Rachmat.[7]

Pada tahin 1973, Astra mendirikan Multi Agro Corporation sebagai cikal bakal dari lini bisnis agri milik Astra. Pada awalnya, bisnis berjalan dengan penanaman singkong dan kelapa hibrida. Astra juga kemudian mengambil alih 50% saham dari Tunggal Perkasa Plantations, yang menjadi cikal bakal masuknya Astra ke dalam industri kelapa sawit.[9]

Infrastruktur dan LogistikSunting

Lini bisnis infrastruktur dan logistik mencakup infrastruktur umum, jalan tol, logistik, dan pelabuhan laut. Berbagai anak usaha di antaranya Astra Tol Nusantara (sebelumnya Astratel Nusantara), Serasi Autoraya, Marga Mandalasakti, Marga Trans Nusantara, Trans Marga Jateng, dan Pelabuhan Penajam Banua Taka.[7]

Pada awalnya, Astratel Nusantara, yang didirikan pada tahun 1992, menjalani bisnis telekomunikasi, dan kemudian diperluas kepada bisnis pembangunan dan pengelolaan jalan tol. Kini, lini bisnis ini turut memiliki dan/atau mengelola sejumlah jalan tol seperti Jalan Tol Tangerang-Merak milik Marga Mandalasakti, Jalan Tol Jombang-Mojokerto (bagian dari Jalan Tol Trans Jawa) milik Marga Hanjaya Infrastruktur, Jalan Tol Kunciran-Serpong, Jalan Tol Semarang-Solo, dan Jalan Tol Serpong-Balaraja.[9]

Tinggalkan komentar